My first realistic flower draw yang tidak kelihatan realistis๐ "Tak semua bunga tumbuh dan mekar bersamaan. Jadi tak usah membandingkan dirimu dengan orang lain."
Assalamu'alaikum. Selamat datang di blogku. Ini adalah tulisan pertama yang ku-publish setelah lima tahun blog ini dibuat dan isinya belum nongol hehe. Selamat membaca. Semoga ada ibrah yang bisa kamu petik
___________---------_____________
Art is TherapyISeni itu Terapi (Nevertheless, ada limitation, ada talkative statement) Bagi yang melakukannya, seni menggambar (menggunakan apa saja) bisa menjadi terapi. Saat berusaha menggambar sesuatu yang indah, itu akan melatih fokus kita pada tiap hal detil. Juga meningkatkan kepercayaan diri. Namun garis besarnya, meski itu kesenangan sekalipun, perlu ada keseriusan saat melakukannya. Agar tumbuh rasa senantiasa ingin belajar. Namun di sisi lain, ada limitation (batasan), yaitu bagaimana menahan hasrat kita terhadap kesenangan saat ada kewajiban sebagai hamba memanggil. Dan ada larangan yang harus dijauhi. Maka bagiku, menggambar adalah seni kesabaran. Hei! Pernah dengar kalimat talkative (nyinyiran) senada seperti ini? "Menggambar itu buang-buang waktu" "Menggambar untuk anak kecil saja," "Menggambar tak menghasilkan uang." Dalam hal ini, sulit untuk membenarkan ataupun menyalahkan penilaian orang. Tapi, kitalah yang paling tahu diri kita dan apa yang kita butuhkan. Sehingga ada momen saat kita tak perlu menggubris penilaian orang lain. Semangat, maemunah✊!
It Actually Deals with a Lot of Time (Gambar realistis memang ngambil banyak waktu? Emang!)
Lihat gambar di atas! Kira-kira berapa jam waktu menyelesaikannya?
Beberapa orang yang kutanyai menjawab antara 5-15 jam. Sebenarnya, gambar itu sudah lama (sekitar 3 bulan lalu) jadi aku agaknya lupa berapa jam menyelesaikannya wkwk. Aku juga tidak begitu yakin orang bakalan rela duduk berjam-jam untuk
menyelesaikan sebuah gambar bunga realistis dengan pensil warna. Serius. Pegel, woy. Belum lagi bentrok kalau waktu shalat tiba. Atau saat mamak panggil ke dapur. Dan amanah lainnya. Melanjutkan
gambar pun tergantung mood. Bahkan, pernah berhari-hari tidak kulanjutkan. Aku
bisa mengatakan selesainya bisa berminggu-minggu. Hmm...haha. Emang lama sih. Tepatnya berapa jam, tidak tahu. Tak ada jadwal pasti. Dan karena kesibukan lain, mungkin akan sulit buat gambar realistis lagi ๐. But, thanks to Allah, that I've learnt a lot from it๐
Gambar Bunga Pertama yang Kukerjakan dengan Serius (Well, you need to deal with the consistency. If it's not, you won't be finished)
Singkat cerita, ini adalah gambar bunga pertamaku setelah seumur hidupku suka gambar orang berdiri pakai pakaian modis, hehe. Setelah itu memulai gambar figur wajah. Namun kuhentikan dengan pertimbangan yang matang. Hijrah
menggambar pun tak mudah. Jadilah 4 tahun tak menggambar dengan serius. Sekadar
corat-coret. Skill menggambarku juga biasa saja. Aku bisa bilang baru
belajar menggambar awal tahun ini. Ini bahkan lebih sulit dari yang
kubayangkan. Mewarnai satu mahkota bunga mawar saja sudah sangat riweh. Beuhhh (harus
blending, nyampur2 warna, shadowing, belum lagi kalau jari sudah pegel. Dan pas diperhatikan masih belum selesai 1 mahkota bunga๐). Tau kan, bunga mawar mahkotanya sudah berlapis-lapis kayak tango. "Berapa lapis?" "Ratusan!" (lebay ki' yek) Jadi, bisa menyelesaikan gambar satu bunga, sudah menjadi kesan yang tak terlupakan bagiku pribadi. Alhamdulillah. Meskipun hasilnya tak sebagus gambar aslinya. Coba
kamu ingat kesulitan-kesulitan yang ternyata bisa kamu selesaikan dengan baik. Those are awesome, isn’t it? Biidznillah (dengan izin Allah), semua itu tak luput dari kemudahan yang Allah berikan. Segala puji bagi Allah. Itulah cerita singkat alias curhatanku menggambar bunga realistis (yang tidak kelihatan begitu realistis ๐ถ).
WELL, INI SEBAGIAN YANG BISA KUTULIS YANG TELAH KUPELAJARI๐๐๐ Tak Ada yang Instan! Belajar Gih! Kita sudah tak asing lagi dengan "belajar". Dari kecil sampai sekarang, kita belajar apa saja. Tentu tau kan, pentingnya belajar. Bikin mie instan, pastinya tak se-instan ---mau makan mie!- CLING!- trus ada di depan mata, voila!---. Ya kali! Coba deh, kamu ingat pertama kali bikin mie instan! Atau... Udah lupa yak? Hehe. Tak melulu tentang mata pelajaran dalam majelis/kelas. Ada hal kecil yang jika direnungkan, maknanya sarat akan hikmah. Seperti halnya menggambar. Lupakan tentang mereka yang suka menggambar sejak kecil. Anggaplah kamu tak suka berurusan dengan cat air dan embel-embelnya. Membuat sketsa dengan pensil saja sudah membuatmu insecure. Ironisnya, kenapa ada dalam mata pelajaran sekolahmu? Uwuw kaciiaan, kaan๐ญ! Punya kecerdasan matematis-logis, eh. Ada tugas menggambar yang bikin pusing. Belum lagi tugas lain yang seabrek. Rasanya pengen kasi nasehat menteri pendidikan biar kurikulumnya fokus sama minat dan bakat saja๐! Well, tidak semudah itu, Ferguso!๐. Coba renungkanlah dulu! Setelah semua yang kamu jalani, apa makna yang membuatmu makin terus mau belajar? Terkadang, sesuatu yang tak kamu sukai membuatmu menemukan makna yang sangat berharga. Dan saat kita jadi pemimpin generasi nanti, mari kita pikirkan sama-sama pendidikan buat anak-cucu kita kelak! Cari Tantangan! (Just do what you like to do, tapi levelnya diup)
Menggambar bisa jadi hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan tergantung tingkat kesulitan kita. Dengan menggambar yang serius, aku belajar fokus dan kesabaran. Dan jika ingin merasakan
hasilnya, silakan dicoba๐. Atau lakukan hal lainnya yang bisa kamu lakukan dengan lebih menantang. Fokus dan Sabar Coba lihat bagaimana kamu yang baca Al-Qur’annya masih terbata-bata. Lalu berusaha fokus dan bersabar belajar tahsinul qira'ah sehingga bacaanmu jadi lancar. Atau bagaimana kamu belajar memasak dengan baik dan gercep (Tolong ajari aku jadi gercep! wkwk). Dengan fokus dan kesabaran, kamu akan terkesan dengan hasilnya. Sampai ada rasa nagih hehe. Maasyaa Allaah, Allaahu Akbar! (3x)๐. Dia Tak Terlahir Hebat. Dia Hanya Tekun (Bukan tidak bisa. Kamu hanya berhenti mencoba. Cobalah lagi!✊) Ada perkataan seorang seniman (kulupa namanya) yang nyentrik
di pikiranku. Dia mengatakan “Masyarakat memandangku sebagai seorang seniman hebat dan
berbakat. Jika melihat bagaimana perjuanganku melakukannya, mereka bisa ja di hanya memandangku biasa-biasa saja.” Berbicara tentang bakat bakalan jadi topik yang panjang, sih. Tapi poinnya adalah bagaimanapun bakatmu, kalau kamu tak mengasahnya dengan tekun, sama halnya kamu bisa bawa motor tapi maunya jalan lurus ajah, wkwkwk. Kelihatannyaji Gampang๐ Pernah ihat video tutorial menggambar di youtube? Kelihatannya mudah, yah๐. "Ah, begitu ji pale. Saya juga bisa!" Coba ditiru! Ambil pensil dan kertas. Trus buat sketsa aja dulu. Hmm bahkan memulainya pun sulit ternyata wkwkwk (diri inipun merasakan ๐).Kita mungkin berpikir itu adalah bakat alami. Namun pikirkanlah, bagaimana "bakat alami" itu bisa berkembang menjadi pemandangan indah, misalnya. Maka bukan tidak mungkin, ia memulainya dengan gambar 2 gunung segitiga, dengan sawah kotak-kotak dan jalanan persegi panjang (Jadi ingat gambar legend๐
). Dengan optimisme dan minat yang tinggi, kemampuannya in syaa Allah semakin berkembang. Ada Pengorbanan, Ada Hasil (Biidznillah) Bayangkan karya seni serta decak kagum dan pujian yang berseliweran di sebuah museum lukisan (semoga Allah melindungi kita atas kesombongan dari pujian makhluk-Nya). Namun tatkala melihat prosesnya, bisa saja kamu melihatnya hidup dengan sangat sederhana. Uang alih-alih digunakan beli outfit keren, malah dipakai beli kuas dan kanvas. Lalu ada yang ingin meraih ridho Allah, kemudian dia perbanyak sedekah. Maka seorang yang fokus pada tujuan, akan rela mendorong dirinya lebih keras (introspeksiki' juga yang tulis๐
). Tak heran jika seorang yang berhasil, akan lebih sering menghabiskan waktu, tenaga, dan harta pada tujuannya. Ratusan Jam?
Gambar di atas adalah
gambar yang kucontoh dari seorang seniman bernama Heather Rooney. Bila dibandingkan dengan gambarku, sangat jauuuhhhh. Jauh!Jauh!Jauh! Gambarku masih terkesan kasar. Gambar bunga mawar yang dibuatnya sangat persis. Yang bahkan kupikir
sebelumnya adalah hasil jepretan kamera profesional. Beuhh. Terlepas dari kebanyakan objek yang digambarnya adalah makhuk bernyawa. Apa
yang membuatnya rela menghabiskan waktu 80 hingga ratusan jam (dengan jeda tentunya), untuk menghasilkan 1 kertas gambar
realistis dengan pensil warna, jika bisa objeknya dijepret dengan kamera? Atau warnai
saja dengan kuas tanpa perlu kelihatan realistis. Toh hasilnya bisa kelihatan
indah! (Sewot wkwk). Jika menggambar saja bisa dilakukannya dengan durasi beratus-ratus jam, maka sebagai muslim yang berprinsip, bagaimana dengan agenda hafalan Qur'an kita? Padahal waktu kita sama-sama 24/365 (colek diri sendiri๐๐ข). Jadi, ujung-ujungnya masalahnya nda' jauh ji dari time management, di'. Hmm๐. Okay!
Saat ini bagiku menggambar masih sekadar hobi. Jika kedepannya bisa menghasilkan uang, maka perlu latihan yang lebih serius. Wallaahu A'lam. Hmm panjang yah, hehe. Ini tulisan pertamaku. Masih banyak kesalahan pastinya. Aku bahkan tidak tahu ini editan ke-berapa kalinya hehe. Anyway, terima kasih sudah membaca sampai kalimat terakhir! Baarakallaahu fiik!
|